Posted in Catatan Kaki

Cerita untuk Anakku (1)

      Satu waktu ketika kamu telah mampu membaca, cerita ini akan kusuguhkan untukmu. Cerita tentang seseorang yang sangat menanti dan berharap bisa melihat setiap detail raut wajahmu dengan jelas, menggendongmu dengan otot-otot tangan yang masih kuat, mendengar dengan jelas suara tawa maupun tangismu, serta mengajarimu berjalan dengan kedua kakinya yang masih kokoh. 

       Dia merupakan salah satu orang yang membentuk ibumu menjadi seorang wanita yang kamu kenal sangat dekat saat ini. Jika kamu merasa ibumu sangat keras kepala, maka dari dia-lah keras kepala itu dihibahkan. Tapi, dengan keras kepalanya, dia ngotot menjadikan ibumu yang seorang wanita desa ini bisa meraup pengetahuan hingga ke perguruan tinggi untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan orang banyak. Tak perduli dengan kondisinya yang sedang gulung tikar usahanya, tulang belakang yang sudah tidak sempurna lagi untuk bekerja berat, dan bisik tetangga yang mencelanya, “buat apa menyekolahkan perempuan tinggi-tinggi, jauh lagi, kecuali masih kaya. Paling-paling nanti juga ngurus anak”. Api semangatnya tak pernah padam, iya dia terlalu keras kepala untuk ukuran orang desa yang hanya lulusan Sekolah Dasar.

      Ibumu ini sama keras kepalanya, melihat dia banting tulang, hutang sana-sini, pun masih harus dicaci orang sekelilingnya, membuat ibu tak tinggal diam. Ibumu melakoni macam-macam pekerjaan mulai dari jualan kue, tukang setrika, freelance trainer outbond, sampe kerja di kafe yang pulangnya tengah malam, mencari berbagai macam beasiswa pendidikan hingga penelitian, sampai jadi asisten praktikum dengan tugas yang lumayan menyita waktu. Apakah ibumu tidak capek? Ah tentu saja ibumu ini capek dan merindukan kasur yang cuma bisa dia nikmati paling lama 3 jam setiap harinya. Tapi, dia yang keras kepala mengasah ibumu ini lebih keras kepaka berkali-kali lipat.

      Dia adalah orang yang sangat mencintai cucu-cucunya, tak terkecuali dirimu, nak. Ibu masih ingat harapan-harapannya untuk melihatmu lahir dan berjalan, kala itu ibu masih jauh dari pikiran tentang pernikahan dan melahirkan. Ketika akhirnya kamu lahir dan tumbuh besar, dia sudah tidak lagi sekuat dulu. Dia sudah terbaring di ranjang, tak mampu lagi berjalan, kata dokter tulang kakinya mengalami pengapuran. Penglihatannya sudah semakin melemah serta pendengaran yang tidak sejelas dulu, ibumu harus berbicara dengan keras supaya dia mendengar. Dia tidak mampu menggendongmu, dia tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas, dia tidak lagi dapat mengenali detail raut wajahmu, bahkan dia menua dengan sangat cepat, tapi bukan berarti dia tidak sayang kepadamu, nak. Dia adalah salah satu orang yang menantikan kehadiranmu di dunia ini. Tentu saja sebesar rasa sayangnya kepada ibumu dulu. Jika satu waktu kamu telah mengerti, ibu ingin kamu mengenalnya sebagai Mbah Kakung, orang yang sangat berharap bisa berada di sampingmu ketika kamu tumbuh dewasa dengan segala indra yang masih kuat dan kokoh untuk mengajarimu berbagai hal.

*saat usiamu 38,5 minggu di rahim ibu*

Photo by R.A.S
Posted in Poetry

Adalah Cinta

​Adalah cinta

Yang membubuhkanmu dalam nyata yang tak terlihat

Dua yang bersemayam dalam satu wujud

Kau merengkuh seluruh rasaku

Tanpa perlu menatap

Tanpa perlu mengenal

Hanya dengan sentuhan yang tersembunyi

Aku merasa kau ada


Adalah cinta

Yang meleburkanmu menjadi satu embrio

Membelah menjadi ribuan sel

Berevolusi dalam sekejap

Menjadi satu makhluk yang tak tertebak raut wajahnya

Tapi aku tak butuh tahu dirimu

Aku mencintaimu semenjak kamu ada dalam rahim

~ Calon ibu yang terlanjur jatuh cinta ~


Photo by R.A.S
Posted in Short Story

Kisah Dibalik Bilik

    Gelap menyergap ruangan yang sedang berduka. Tangis demi tangis telah berhenti, namun suasana pemakaman masih menari di atap gubuk ini. Sesekali angin menerobos masuk melewati jendela kecil di belakang punggungku, menggerak-gerakkan gorden kumuh yang menutupi pintu bilik ini. Bilik ini merupakan satu-satunya ruangan di gubuk kami yang tak pernah kujamah. Aku selalu penasaran isi yang disembunyikannya, tapi kisah yang selalu diceritakan emak membunuh rasa penasaranku.

“Itu bilik keramat. Kata bapakmu tidak boleh dibuka-buka lagi setelah kematiannya. Kalau dibuka bisa membawa bencana ke seluruh desa. Kau dengar aku, Larasati?” Suatu hari emak berkata padaku, ketika   itu   aku   masih   kecil,   bocah   yang   selalu ketakutan pada kutukan atau hantu di atas pohon. Semenjak hari itu, aku tak pernah berani menyimpan rasa penasaran pada bilik keramat tersebut

     Sore ini, aku akan memberanikan diri untuk membuka pintu bilik keramat dan memasuki ruangan yang selama 20 tahun tak pernah sedikit pun kuintip isinya. Emak yang jenazahnya telah dikuburkan kemarin sore mungkin akan murka di kuburnya. Tapi rasa penasaranku sudah terlampau besar, sudah tidak dapat aku bunuh lagi. Aku lelah membunuh rasa penasaran ini.

     Keringatku  sudah  sebesar  biji  jagung, beberapa telah mengucur dan berjatuhan ke kaos. Tanganku gemetar memegang handle pintunya. Tapi, aku tetap harus membukanya. “Kriettt…” bunyi pintu bilik yang dibuka, menyeramkan. Bermacam-macam terkaan berkumpul dan berputar-putar di kepalaku, hantu bilik kah? Cincin bertuah kah? Jin botol kah?. Bilik terbuka, tak ada yang menyeramkan seperti film-film misteri yang suka ditonton ramai-ramai di rumah tetanggaku. Ranjang dengan satu bantal dan satu guling yang bau spreinya masih segar seperti baru saja dicuci. Sebuah lemari kayu berdiri kokoh di samping pintu, tanpa debu seperti dibersihkan setiap hari. Dinding bilik dipenuhi foto pernikahan emak dan bapak, serta sebuah foto bayi, barangkali itu fotoku. Apa yang disembunyikan  emak  di  bilik  ini?  Kenapa  seluruh foto keluarga dikumpulkan di bilik ini? Tidak satu pun ada foto keluarga di ruangan yang lain. Selama hidup, baru kali ini aku bisa melihat foto bapak, tampan.

    Kubuka Jendela kayu dengan cat yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya. Sorot jingga menembus bilik, cahaya senja yang memancing kerinduanku pada emak, juga pada bapak. Gubuk ini makin menyerupai labirin, sepi dan senyap menyusup diam-diam dalam tiap jengkal lantai semen. Kubaringkan  tubuh  di  ranjang  yang  tak  empuk, sebuah buku tulis butut tergeletak sembarangan di samping bantal. Entah kenapa buku tulis itu sangat menggoda  untuk  dibuka.  Tulisan  emak,  besar  dan jelek.

***

Halaman terakhir

Larasati, gadis remaja emak yang sangat cantik.  Kau  semakin  mirip  bapakmu.  Kerinduan emak terbayarkan tiap kali memandangimu tertawa. Bapakmu juga suka sekali tertawa.

Kamu  sudah  dewasa  Larasati.  Suatu  hari kamu akan menyusup masuk ke dalam bilik ini, tidak akan percaya pada takhyul yang kerap kali aku ceritakan kepadamu tentang bilik keramat ini. Memang benar, bilik ini tidak pernah membawa bencana, bilik ini selalu membawa kembali ingatan tentang bapakmu, menyusun kembali kisah tentang pertemuan emak dan bapak.

Kamu pasti bertanya-tanya, Larasati?. Emak menyembunyikan kisah buruk di sini dan emak tidak mau kamu mengingatnya. Kamu memang mirip sekali dengan bapakmu, penuh emosi dan pendendam. Karena itulah, emak tidak ingin kamu menyimpan dendam dengan bapakmu, lelaki yang sangat emak cintai.

Bapakmu belum mati, nak. Suatu hari, bapak kembali dari sawah sambil tergopoh-gopoh. Dia memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam tas dan pergi meninggalkan rumah ini. Janda muda merenggutnya dari emak saat emak masih mengandungmu. Tak dihiraukan tangisan dan rengekan  emakmu ini.  Bapakmu berlalu pergi  dan meminta maaf pada emak.

Kamu tahu siapa janda muda itu? Dia adalah mantan   pacar   bapakmu.   Betapa   bapakmu   dulu sangat mencintainya, hampir dia bunuh diri karena ditinggal  kawin.  Emak  potong  tali  yang  melilit  di leher bapakmu. Setiap hari emak temani dia, karena emak takut bapakmu akan bunuh diri lagi. Sampai akhirnya orang tua kami menikahkan emak dengan bapakmu.

Tahun ketiga pernikahan kami, janda muda itu  datang.  Aku  masih  ingat,  dia  berdiri  di  ujung jalan, menunggu bapak. Mobil angkutan desa membawa bapakmu pergi. Emak menangis tersedu-sedu di depan rumah, menunggu bapakmu pulang.

Tapi   tak   kunjung   pulang   sampai   kamu   sudah beranjak dewasa. Emak tidak pernah lelah menunggu bapakmu pulang. Di bilik ini emak tumpahkan kerinduan pada bapakmu. Di bilik ini emak selalu menunggu bapakmu pulang.

Jika suatu hari bapak pulang, berjanjilah kamu tidak akan membencinya dan memaafkannya. Demi emak, berjanjilah Larasati. Sampaikan pada bapak bahwa emak tetap mencintainya dan selalu menerimanya kembali ke dalam gubuk ini.

Tangisku  tumpah,  amarahku  meradang. Selama bertahun-tahun emak menyimpan rapi rasa kehilangannya  seorang  diri.  Bilik  ini menyembunyikan kisah cinta yang tak pernah usang di gerus usia, tak pernah layu meski kanker menggerogoti leher rahim emak. Bilik ini mencatat detik-detik penantian emak yang tak kunjung lelah. Tapi  aku  tidak  sanggup  berjanji  untuk  menerima lelaki yang telah melumat kebahagiaanmu, emak.

Jingga di langit lenyap, senja melarung kisah yang  disembunyikan  bilik.  Aku  biarkan  bayangan bapak menguap melewati jendela kayu yang catnya telah mengelupas. Aku tidak akan pernah merindukan dan menantikannya pulang.   Kisahnya usai bersama senja yang menutup hari.

dias1
Photo by Dias
Posted in Short Story

Sepenggal Pertemuan dan Semangkok Sup

    Ketika seluruh  rasa  yang  mengendap  diam- diam   dalam   kisahmu,   menjadi   hidangan   paling nikmat untuk dilahap di meja makan. Seluruh rasa yang diramu dan dihidangkan dalam sekumpulan perjalanan  dan  proses  hidup,  kini  telah  menjadi racikan luar biasa yang menyuplai ribuan kekuatan bagi sepasang kakimu untuk menyusuri dataran yang lebih tinggi.

   Kamu sedang menyeruput semangkok sup dengan penuh nafsu. Kamu bercerita membabi buta tentang perjalananmu mengelilingi benua asia, kehebatan macam-macam ras yang kamu temui dan cita rasa makanan dari berbagai Negara yang telah kamu pijaki tanahnya. Tak ada makanan yang selezat makanan Indonesia, katamu.

    Setiap kali kita bertemu kembali dari perjalanan hebatmu, aku selalu yang paling antusias dibandingkan sahabatmu yang lain. Aku rasa itu yang menyebabkanmu    merasa   paling    nyaman    untuk menumpahkan kisah petualanganmu. Aku selalu merasa hidup kembali ketika mendengar keluh kesah dan bahagiamu melewati rintangan di setiap Negara.

“Bulan depan, aku diminta untuk hunting foto di Benua Eropa. Ah…setiap kali menginjakkan kaki di  Negara  lain,  aku  selalu  mengingatmu,  berharap bisa menunjukkan  kepadamu  secara  langsung.  Tak perlu aku bercerita panjang lebar begini,” kamu tetap saja menggebu-gebu bercerita sambil menyeruput semangkok sup.

“Kalau aku ikut menjejak tanah dimana kamu berada,  bagaimana  mungkin  kamu  dapat  bercerita lagi  kepadaku  seperti  saat  ini?”  Aku  menjawab sambil   memandangnya   menghabiskan   semangkok sup.

“Hahaha…betul juga ya, Rei. Kamu memang pendengar yang paling baik. Setiap perjalanan selalu menambahkan kekuatan untuk memulai perjalanan yang lain dan aku berharap kamu akan mengalami satu  perjalanan  yang  memberimu  kekuatan  untuk menjadi pecandu perjalanan yang lain, Rei” katamu sambil memandangku dengan tatapan yang lain.

I hope and I will, I believe it, Rend”, yakinku pada Rendy.

    Senja menghantarkan pertemuan kita di penghujung waktu. Kita telah kenyang oleh semangkok sup dan sepotong pertemuan yang sangat hangat. Sebelum berpisah kembali, kamu memandangku lama sekali, kesempatan bagiku untuk menyembuhkan kerinduan kepadamu.

    Perjalanan demi perjalanan telah kamu kumpulkan .dan mengaduknya menjadi adonan yang siap mengembang. Rasa demi rasa telah memenuhi hidup yang kamu lalui tanpa henti. Suatu hari, aku berharap rasa cinta yang mengendap dibalik kelu lidahku dapat melebur dalam hidupmu, menjadi satu racikan dalam mangkokmu. Suatu hari, kamu pun dapat menyeruputnya habis sampai usiaku tak tersisa.

    Senja menguap bersama pertemuan kita yang kembali menjadi sebuah perpisahan, entah perpisahan yang keberapa kalinya. Pandanganmu selalu jadi jawaban bisu atas rasa-rasa yang selalu kusimpan seorang diri. Selamat mengumpulkan rasa dan perjalanan ke dataran yang lebih tinggi, Rendy.

dias
Photo by Dias
Posted in Poetry

Perahu Kita

Aku

Perahuku kecil, juga minimalis. Terbiasa dihantam ombak seorang diri. Berpacu sungguh dengan angin laut. Tak jarang meliuk lesu kelelahan.

Perahuku sederhana, tanpa rumbai indah juga tanpa kelip lampu seperti kapal pesiar. Menyusuri pulau-pulau yang hanya fatamorgana. Tertipu, perahuku merajuk untuk berlabuh.

Perahuku ringkih sekaligus ngeyel, memaksakan diri melaju di tengah badai. Bukan untuk dijunjung atau dipuja, tapi untuk bertahan diri supaya lekas membanggakan si empunya.

Perahuku belum lelah, hanya merindu pada teman, yang bukan sekejap, tapi selamanya.

Dia

Perahuku juga kecil, tapi bukan minimalis. Digulung gelombang tak pernah hanyut. Berebut tujuan dengan perompak juga kapal besar. Keras kepala pada mimpi.

Perahuku sederhana yang aku hias supaya gagah. Tak kalah dengan pesiar atau kapal besar.Tapi tak jarang salah berlabuh, kemudian kecewa.

Perahuku kuat juga sedikit ambisius, menerjang petir juga angin kencang. Demi butiran-butiran pasir yang dipesan si empunya.

Perahuku belum lelah, hanya merindu pada teman, yang bukan sekejap, tapi selamanya.

Kami

Kami bertumbukan di tengah samudera. Jengah saling bertatapan. Pusaran arus melarung kami, juga hati yang katanya sering kecewa.

Kami saling mengobati sembari menyusuri lautan luas.Terkadang saling berpunggungan, tapi lebih sering berdampingan.

Kami pernah lepas, tapi terasa tidak pas. Sehingga kami memilih untuk berlayar bersama ke sebuah pulau yang bukan fatamorgana. Tapi tidak juga selalu menjanjikan segalanya indah. Pulau yang menawarkan keberterimaan dan kesyukuran.

pelaut-online
Source http://www.pelautonline.com

 

 

Posted in Short Story

Spesies

Bogor, Juli 2015

        Tetes air dari keran yang tak sepenuhnya terkunci rapat menarikku ke dalam kesadaran. Bunyinya yang ritmis jatuh ke wastafel tak seharusnya bisa membuatku resah seperti subuh ini, bukankah setiap kali dia datang menemuiku dan memilih untuk merengkuh tubuhku sepanjang malam, air keran di dapur akan selalu berisik seperti itu. Kebiasaannya yang jarang mampu menutup keran air dengan rapat tak pernah menggangguku dan justru aku menyukai suara itu, menandakan bahwa dia sedang di sini, di rumah ini. Aku terbangun dan melihatnya masih tergolek lemas di samping pembaringanku, entah karena orgasme beberapa menit yang lalu atau karena pilihan-pilihan yang belum mampu dia putuskan. Punggungnya yang setengah tertutup selimut terlihat sangat menggoda dan rambutnya yang sedikit basah seperti mengajakku untuk mencumbunya. Bagaimana mungkin kita bisa berada pada titik nista ini?

***

                Stasiun Gambir, Januari 2014; 19.30 WIB

                Pergerakan waktu ingin segera aku hentikan seketika dalam saat-saat genting seperti ini, jika saja aku mampu melumpuhkan waktu barang sebentar saja. Berulang kali kulihat jam tangan silver yang melingkar di pergelangan tanganku, air mukaku tentu saja sudah mewakili kecemasan saat ini, kemudian kulihat jam keberangkatan tiket kereta eksekutif menuju Yogyakarta, berharap bisa mengubah tulisan waktu di dalamnya. Supir taksi mengamati tingkahku lewat cermin di depannya, menyadari kecemasanku, “Neng, keretanya berangkat jam berapa?”. “Sepuluh menit lagi. Bisa ngebut nggak ya, Pak?” desakku kepadanya. Tanpa menawarkan lagi, bapak supir taksi menginjak pedal gas mobilnya kencang-kencang.

                Sebelas menit kemudian, aku telah berlari-lari menuju peron stasiun. Peluit mulai ditiup petugas, kereta berjalan lambat, tersadar bahwa kereta yang akan aku tumpangi telah merambat pelan-pelan, aku angkat koper mungil bergambar menara pisa, menguatkan otot kakiku dan segera mengejar kereta. Hap! Pendaratan yang tidak cukup bagus, sempat terpeleset di depan salah satu pintu toilet kereta, beruntungnya tidak ada yang mondar-mandir atau merokok di sekitar situ. “Sial! Meeting yang over time merusak segalanya,” aku bersungut-sungut sembari mengangkat koper ke atas tempat barang. Seseorang yang duduk di sampingku menurunkan koran yang sedang dibacanya, melirik ke arahku dengan perasaan heran atau mungkin juga terganggu.

                Detak jantungku masih berdegup tak beraturan karena drama mengejar kereta api hingga terjerembab di depan toilet. Namun, saat upayaku mengatur ritme jantung kembali normal, suara seseorang sedang mengeja sebuah nama “Au-re-lia Au-ri-ta”. Tidak, tidak seharusnya nama itu dieja dengan jelas di dekat pendengaranku, tak seorang pun berhak membawa emosiku meletup-letup kembali, tak satu pun orang diizinkan memaksa masa lalu itu hadir kembali dalam ingatanku.

***

                Yogyakarta, Musim Hujan di Tahun 2001

                Air mengguyur penuh nafsu seakan langit ingin segera bersetubuh dengan bumi. Jendela dihantam hujan dengan keras, bertumbukan, kemudian mengalir jatuh terserap tanah. Tidak seperti anak-anak pada umumnya yang selalu kegirangan bermain dengan air hujan, aku justru memilih untuk berdiam diri di balik jendela kaca dan memikirkan bagaimana air bisa jatuh dari langit, bagaimana air memilih jatuh di atas atap rumahku, bagaimana petir hanya terjadi ketika badai hujan, kenapa kadang pelangi hadir dan di hujan yang lain dia bersembunyi, darimana warna pelangi berasal, hingga kenapa harus dinamakan pelangi.

                Begitupun ayah, tidak seperti ayah yang biasanya kudengar dari cerita teman-temanku. Ayah mengajakku bermain dengan mikroskop, dengan cawan petri, dengan autoclave, dengan segala isi laboratorium pribadinya di rumah. Ketika aku bercerita kepada teman-temanku, mereka mengerutkan kening, mengangkat alis, dan memilih undur diri dari tempatku berbicara. Ah, aku juga tidak mengerti tentang apa yang diceritakan teman-temanku, tentang warna gincu, tentang rasanya menstruasi, tentang bedak padat, tentang obat oles anti acne, dan tentang birahi ketika dicium laki-laki. Foto koloni bakteriku selalu kalah pamor dengan foto pacar baru Alena, gadis tercantik di kelasku. Aku tidak mengerti apa yang menarik dan tidak menarik bagi mereka. Kenapa aku seperti makhluk alien yang tidak satu spesies dengan mereka? Bukankah kami sama-sama spesies Homo sapiens? Tapi kenapa begitu berbeda isi kepalaku dan isi kepala mereka?

                Sebelum tidur, ayah tidak pernah absen mendongengkan cerita kepadaku, meskipun kata teman-temanku dongeng ayah tidak menarik, lagu-lagu ayah juga sudah diingat. Dongeng ayah selalu memudahkanku mengerjakan dan menjawab soal-soal di sekolah, terkadang dongeng tentang hewan-hewan mimikri yang bisa berubah warna tubuhnya, hingga menyanyikan lagu-lagu unsur kimia dari hidrogen hingga ununillium. Suatu hari ayah juga bercerita tentang hewan ubur-ubur, spesies Aurelia aurita, yang aku tahu dijadikan ayah sebagai namaku Aurelia Aurita. Aurelia aurita telah berjasa membawa ayah mendapatkan beasiswa doktor ke Jepang dan menjadi seorang ahli marine biotechnology yang kerap kali diundang seminar ke berbagai belahan dunia. Ayah berharap aku juga akan menjadi berkah bagi dirinya, bagi diriku, bagi ilmu pengetahuan. Semenjak malam itu, aku mencintai namaku, bahkan justru menggilainya.

                Pagi ini, satu kejadian membuatku berbalik mengutuki nama itu, menyumpahi segala macam ilmu pengetahuan yang menemukan nama itu, mengunci diri tentang pertanyaan-pertanyaan yang melintas tanpa batas di kepalaku.

***

                Bogor, Juli 2015

                Kepalaku terasa sesak dengan rentetan masa lalu, tiba-tiba aku merasa mual dan ingin muntah. Tak kuhiraukan tubuh tanpa sehelai kain, aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan segala hingar bingar kenangan yang menyeruak ingin dibuang. Setelah habis isi lambungku, kunyalakan kran shower agar terbasahi seluruh tubuhku yang terlanjur najis. Gemericiknya yang riuh terdengar hingga kamar, mungkin karena pintu kamar mandi kubiarkan terbuka. Raka, pria yang tergeletak di ranjang merasa terganggu, beranjak bangun, dan menjemputku ke kamar mandi. Bukan untuk menghardikku atau memukulku karena mengganggu tidurnya, tapi untuk kembali menyetubuhiku di bawah air yang masih menyiram tubuhku yang semakin najis. Ah, aku tak kuasa menolaknya, menangkis birahi yang dia tawarkan untukku. Kenapa harus seperti ini? Kenapa cinta tidak membuat kami lebih suci dari hidup dan ilmu pengetahuan?

                Dia kembali tertidur pulas setelah menyumbang sperma ke dalam rahimku yang mungkin telah  diberi mantra supaya tidak ada yang berhasil menembus sel telurku. Tapi, aku selalu berdoa bahwa salah satu sel spermanya luput dari mantra dan berhasil menembus dinding sel telurku, menjadi embrio hidup di dalam rahimku. Inilah salah satu cara mengikatnya supaya tidak pergi kemana-mana. Bukankah aku terlalu serakah jika berdoa seperti ini? bagaimana bisa nama yang dipuja-puja ayahku menjadi bomerang bagi hidupku? Inikah berkah yang diinginkan ayah saat itu?

***

                Kereta Eksekutif menuju Yogyakarta, Januari 2014; 20.00 WIB

                 “Au-re-lia Au-ri-ta,” ejanya dengan jelas di samping telingaku. Tidak, tidak seharusnya nama itu dieja dengan jelas di dekat pendengaranku, tak seorang pun berhak membawa emosiku meletup-letup kembali, tak satu pun orang diizinkan memaksa masa lalu itu hadir kembali dalam ingatanku. Aku melihatnya dengan tajam, memungut tiket kereta yang terjatuh di bawah kakinya dengan tarikan emosi. Setelah mengerutkan kening mengeja namaku, dia tenggelam lagi ke dalam lembaran-lembaran korannya. Adakah dia tidak merasa bersalah atas lidah lancangnya mengeja namaku dengan jelas? Nama yang menjadi petaka dalam cerita-cerita jeniusku ketika beranjak remaja. Tentu saja, dia tak mengerti sejarah suramku, dia hanya penumpang yang ingin memberikan isyarat bahwa tiketku terjatuh, bahwa yang sesungguhnya bermasalah dengan nama itu hanya aku dan cerita mengerikan di suatu pagi.

***

                Yogyakarta, Musim Hujan di Tahun 2001

                Pagi ini, satu kejadian membuatku berbalik mengutuki nama itu, menyumpahi segala macam ilmu pengetahuan yang menemukan nama itu, mengunci diri tentang pertanyaan-pertanyaan yang melintas tanpa batas di kepalaku.

                Pagi ini, aku membawa preparat ayah dari laboratorium ke sekolah untuk dipresentasikan di depan kelas. Proyek dari seorang guru Biologi SMP kepada setiap siswa di kelas, tidak terkecuali aku.  Aku mengenalkan spesies yang selalu dibanggakan ayah, yang telah membawa ayah mendapatkan beasiswa doktor di Jepang, yang membuat ayah keliling dunia, dan yang membuat ayah merasa nama spesies itu pantas untuk disematkan kepada putri satu-satunya. Tapi, seharusnya aku paham dari awal bahwa apa yang ada di pikiranku tidak sama dengan apa yang dipikiran mereka, bahwa apa yang menurutku hebat ternyata tidak bagi yang lain.

                Aku mengenalkan spesies Aurelia aurita, si ubur-ubur bulan, yang menurut ayah akan jadi berkah untuk hidupku juga. Nihil, nama itu membuatku jadi ejekan, menjadikanku semakin serupa dengan alien. Selama hidup, aku tidak pernah protes dengan perbedaan isi pikiranku dengan teman-teman, aku menikmati kesendirianku mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang jarang terbersit di otak teman-temanku. Tapi untuk kali ini, aku protes pada ayah, aku marah pada hidupku, murka pada ilmu pengetahuan, dan menyingkir dari Tuhan.

                “Lihat! Pantas dia gendut seperti ubur-ubur, pantas dia punya mata seperti ubur-ubur, bahkan otaknya juga seperti ubur-ubur, hahaha” seorang teman lelaki meneriakiku dari ujung belakang kelas kemudian seluruh teman terkekeh menertawaiku. Aku tidak lagi dipanggil Arel atau Aurel, aku dijuluki si ubur-ubur gendut atau si ubur-ubur singkek, aku ditertawakan, aku jadi bahan cemoohan karena aku gendut dan keturunan china. Aku merasa terhukum karena aku berbeda.

Untitled
Photo by Brq. Dias Bahary Adhitama

***

                Kereta Eksekutif menuju Yogyakarta, Januari 2014; 21.00 WIB

                Tentu saja, dia tak mengerti sejarah suramku, dia hanya penumpang yang ingin memberikan isyarat bahwa tiketku terjatuh, bahwa yang sesungguhnya bermasalah dengan nama itu hanya aku dan cerita mengerikan di suatu pagi. Aku gendut dan keturunan china, memiliki nama pemberian ayah yang membuatku semakin berbeda di antara “pribumi”. Bagaimana mungkin aku disebut bukan pribumi, padahal aku dilahirkan di tanah air yang sama? Apakah bentuk mata merepresentasikan pribumi? Apakah warna kulit menjadikan seseorang pribumi dan bukan pribumi?.

                “Bukankah nama itu bagus? Aurelia Aurita. Kenapa bahasa tubuhmu mengisyaratkan penolakan bahkan mungkin kebencian?” dia mulai lancang memasuki masa laluku, pria asing dengan wajah di dalam berlembar-lembar koran. Aku terdiam, menggigit bibir menahan amarah.

                “Menurutku, nama itu bagus, Aurelia Aurita, sama seperti nama ilmiah ubur-ubur bulan. Ah…nama itu adalah berkah bagiku. Jadi, sayang sekali jika ada yang membenci nama itu,” pria itu melipat lembaran-lembaran korannya sembari menengok ke arahku, mengharap persetujuan.

                Setelah peristiwa pagi itu, pagi dimana aku membawa preparat spesies Aurelia aurita, aku tidak pernah membiarkan seseorang mengetahui nama lengkapku kecuali petugas pajak, dokter spesialis migrainku, dan mungkin petugas-petugas yang harus berurusan dengan administrasiku. Aku tak lagi menekuni dunia laboratorium, menjauh dari ayah, dan memilih menjadi konsultan bisnis dimana tidak ada yang mengetahui bahwa Aurelia Aurita adalah nama spesies ubur-ubur. Aku berjuang dengan keras untuk menjadi tidak gendut lagi, memaksa diri berkenalan dengan gincu, dengan bedak padat, dengan eyeliner, kecuali dengan ciuman laki-laki yang katanya mengunggah birahi.

                “Iyakan?” suara paraunya seperti memohon atau mungkin juga memaksa persetujuan. Dia mengajukan jabatan tangan, kemudian memperkenalkan diri. Raka, pria berkulit cokelat khas Indonesia yang konon katanya mewakili pribumi, namun parasnya lebih menunjukkan bahwa dia perpaduan Jawa dan Arab. Ajaib, menemukan seseorang yang sama-sama seperti alien dan bodohnya aku menerima jabatan tangannya.

***

                Bogor, Juli 2015

                Bukankah aku terlalu serakah jika berdoa seperti ini? bagaimana bisa nama yang dipuja-puja ayahku menjadi bomerang bagi hidupku? Inikah berkah yang diinginkan ayah saat itu? Nama Aurelia Aurita yang membawaku jatuh cinta pada seorang pria beristri, yang membuatku menjadi simpanan yang entah masih berada di ranjang ini karena dicintai atau karena dinikmati. Bukankah aku terlalu egois jika harus merebut pria ini dari keluarganya hanya karena sebuah nama? Apa bedanya aku dengan perek jika seperti itu? Apa bedanya aku dengan ibu yang memilih lari dengan pria lain?. Barangkali aku terlanjur najis seperti ludah anjing, tapi aku punya pilihan untuk hidup lebih baik. Aku mengeluarkan koper mungil bergambar menara pisa yang agak miring, menentukan pilihan hidupku.

__Selesai__

Aurelia_aurita_(Cnidaria)_Luc_Viatour
Source : wikimedia.org

 

Posted in Catatan Kaki

Bangku Kosong

 

                Bangku kosong yang melompong, terlihat biasa seperti bangku kosong di ujung-ujung kelas yang lain. Tapi, bangku kosong yang melompong itu punya kenangan, mengisahkan sejarah yang kurindukan. Bangku kosong yang melompong itu, menggugah kesadaranku bahwa ketika kita memulai pertemuan, kita juga harus siap menunggu kedatangan sebuah kehilangan.

***

                Lengkingan adzan subuh yang terdengar berbeda, dingin yang menusuk epidermis kulit juga terasa berbeda, langit-langit atap yang terlihat berbeda, tiba-tiba aku merindukan rumahku yang sesungguhnya. Aku bangkit dari ranjang dan membuka jendela kayu tak jauh dari ranjangku, aroma kabut dan gutasi embun yang menyeruak masuk ke rongga paru-paru, segar. Kamar ini, rumah ini, aroma ini, serta dingin ini akan menjadi milikku selama setahun ke depan. Sekarang, aku adalah guru tambahan yang akan mengisi kelas-kelas kosong di sekolah yang berada di atas bukit itu, sekolah yang jauh dari hiruk pikuk knalpot kendaraan, sekolah yang jauh dari riuh rendah keramaian kota, sekolah yang dari selasarnya terlihat biru laut dari kejauhan serta lembah yang mengelilinginya.

                “Nak, mande ko jolu!” teriak Mamak Gilang, mamak angkat yang bersedia menjadi bagian keluargaku selama di Tanah Mandar ini.

                “Iyo, mak!” balas teriakku dari dalam kamar sembari mengoleskan gincu warna netral supaya tidak seperti lenong.

                Aku bergegas keluar kamar dengan jilbab merah senada dengan warna kemeja batikku. Tepat setelah membuka pintu kamar, seorang anak berjilbab putih dan berseragam merah putih telah siap menjemputku sepagi ini. Dia tersenyum, kemudian menyalami tanganku, “Assalamualaikum, Bu Guru”. “Waalaikumsalam, Bu Guru sarapan dulu ya, ayo ikut sarapan!”, jawabku kepadanya. Dia menggeleng dan mempersilahkan aku menikmati sarapan dulu sebelum berangkat. Kemudian, kami berangkat bersama menuju sekolah, “Bu Guru, apakah boleh seorang muslim membuatkan hadiah natal untuk Pak Gurunya? Saya ingin menyayangi Pak Guru meskipun berbeda, tapi saya takut sama Allah”, tuturnya. Aku tertegun pertanyaan itu keluar dari mulut seorang siswi SD.

                Hasrina, seorang siswi kelas 6 SD yang terpupuk rasa dewasa dan tanggung jawabnya semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan setahun yang lalu. Hidup dengan seorang adik yang masih kelas 2 SD dan seorang nenek yang telah renta. Setiap waktu, dia yang paling setia membantuku dalam hal apapun, yang paling setia menungguku tak perduli selama apapun waktu yang kuhabiskan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, yang paling bijaksana dan dewasa sehingga membuatku tertunduk malu untuk banyak hal. Setiap pertanyaannya, pada akhirnya mengembalikan kesadaranku tentang definisi hidup, tentang pencarian dan perjalanan, tentang Tuhan.

                Hasrina duduk di bangku kedua paling kanan. Dari sudut itu, dia seringkali mengangkat tangan dan menanyakan sesuatu hal yang tidak terpikirkan oleh teman-temannya. Pertanyaan-pertanyaan Hasrina yang kemudian memberiku tugas untuk mencari dan mendalami banyak hal yang seringkali terlupakan, terutama tentang agama, tentang panduan hidup yang sesungguhnya.

                Satu kali, aku mengantar Hasrina pergi berobat ke Puskesmas karena sakit tenggorokan yang belum kunjung sembuh. Selepas dari puskesmas, kubawa dia merasakan bakso terkenal di pinggir jalan poros kecamatan. Kami bercerita, dia bertanya dan aku menjawab, aku mengeluh dan dia menghibur, bersamanya seperti bersama seorang wanita yang telah banyak menikmati hidup yang jatuh bangun. Tiba-tiba dia mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku seperti biasa, tapi kali ini pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjamin konsistensinya di masa depan.

                “Bu guru, kalau saya sudah lulus akan masuk panti asuhan di Makassar. Apakah adik saya akan baik-baik saja? Apakah nenek juga akan baik-baik saja? Bagaimana kalau saya tidak dapat berpamitan ketika ibu guru balik ke Jawa? Apakah saya juga akan baik-baik saja di sana?”

                Hasrina menamparku secara membabi buta, adakah aku pernah mempertimbangkan keluargaku ketika aku memilih untuk melakukan perjalanan sejauh ini? Atau paling tidak memiliki kekhawatiran seperti yang dimiliki Hasrina. Seringkali, aku hanya memikirkan inginku. Aku berkaca-kaca melihatnya yang menerawang ke atas, memikirkan sendiri kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.

                Aku ambil tangannya, kupegang erat-erat, dan kukatakan “Percayakan kepada Allah ya, nak! Tenanglah dan pergilah raih mimpi-mimpimu”. Dia menggenggam tanganku lebih erat, kemudian tersenyum sesaat yang dilanjutkan menangis. Aku peluk tubuhnya kuat-kuat bahwa sesungguhnya aku juga khawatir merasakan kehilangannya, aku takut merasa kosong tanpa pertanyaan-pertanyaannya yang membuatku belajar dan memikirkan banyak hal tentang hidup.

***

                Tahun ajaran baru, bangku kedua di ujung paling kanan sekarang kosong melompong. Tak ada yang duduk di situ karena jumlah siswa semakin sedikit, tidak sampai pada bangku kedua. Bangku itu akhirnya kosong melompong seperti halnya kehilanganku. Ibu guru merindukan kamu yang selalu mengangkat tangan, yang selalu bertanya, dan terkadang murung sendiri di bangku yang sekarang kosong melompong karena rindu mamakmu. Adakah kamu sedang rindu ibu guru di kamar panti asuhanmu, Hasrina?

13
Photo by RAS